Tahun Pertama di Jakarta

Bismillah…

Sudah lama tak mengupdate artikel blog karena banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan. Yah… akhir-akhir ini jadwal semakin padat saja sampai beberapa komentar di blog juga baru termoderasi hari ini😀 *sorry*. Alhamdulillah, dengan sedikit  “memaksakan” diri hari ini mencoba menulis artikel kembali.

Mengapa harus memaksakan diri?? Jawabnya karena tanggal kemaren, 14 April 2012 adalah tepat satu tahun saya merantau ke Jakarta dan saya ingin tulisan ini bisa dibaca dan jadi kenangan di kemudian hari tentang kisah hidup ini.

Setahun yang mungkin tak terasa bagi sebagian orang, namun bagi saya -apalagi di waktu awal dulu- sungguh sangat terasa. Saya kadang seolah belum sadar bahwa saya telah berada di tempat yang dijadikan ibukota negara ini.

Apabila ditanyakan apakah saya menikmati tinggal di Jakarta, maka mungkin jawabnya hanya 35% saya bisa menikmatinya. Itu juga karena disini hal-hal “berbau” teknologi dapat lebih mudah didapatkan daripada di tempat tinggal dulu. Namun di balik semua itu, kerinduan kepada keluarga dan kampung halaman masih merasuk kuat dalam benak ini.

Saya masih ingat setahun yang lalu, ketika saya diminta ke jakarta namun dengan waktu persiapan yang hanya sekitar 2 hari saja. Hari selasa (12 April 2011) saya mendapat surat pemberitahuan panggilan , kemudian pada hari kamis-nya (14 April 2011) saya sudah berangkat ke Jakarta. Sungguh suatu hari yang mengejutkan karena =seingat saya= minggu-minggu tersebut saya tidak mendapat firasat apapun, bahkan dalam mimpi. Dengan persiapan yang sangat singkat namun akan tinggal mungkin bertahun-tahun disini, hati terasa berkecamuk.

Ingin rasanya pulang dan membatalkan saja keberangkatan, namun karena ini tugas, segala perasaan tersebut harus coba diredam dan dihilangkan. Sebenarnya dulu saya memang sudah pernah ke Jakarta satu kali, namun karena bersama rombongan dan lagi cuma sekitar satu minggu di Jakarta, tentu perasaan yang timbul pun berbeda.

Di hari sebelum keberangkatan, saya jadi orang yang terakhir pulang dari tempat kerja, hanya karena ini merasakan momen-momen sebelum saya berangkat. Bagaimanapun juga, saya telah bekerja disana hampir sekitar 5 tahun, begitu banyak kenangan yang telah saya dapatkan disana. Hal yang mengejutkan justru ketika saya pulang ke rumah, ada sesuatu terjadi di keluarga saya, sesuatu yang membuat saya merasa tak sanggup untuk meninggalkan mereka,  khususnya kedua orang tua saya. Namun, ibu saya yang saat itu sakit mencoba meyakinkan bahwa saya harus pergi, sebuah permintaan yang membuat saya mengumpulkan kembali semangat-semangat untuk bisa berangkat karena saya tau beliau ingin yang terbaik untuk anaknya.

14 April 2011 saya menginjakkan kaki di Jakarta, dengan seorang teman yang sama-sama dari Kalimantan Selatan namun dia sendiri belum pernah ke Jakarta. Awal kedatangan kami bingung kemana harus menuju, setelah konsultasi sana sini, dipilihlah mess Provinsi Kalimantan Selatan sebagai tempat menginap sementara, sampai kami bisa menemukan kontarkan sendiri seperti sekarang ini.

Jakarta memang tempat yang menawarkan sejuta mimpi. Banyak yang mencoba meraih-nya disini, termasuk juga kami. Namun dibalik semua itu, Jakarta juga suatu tempat yang keras, sehingga bagi yang tak cukup bekal akan tersisihkan bahkan mungkin tenggelam diantara debu ibukota. Saya akui, selama disini banyak sisi negatif dari dari saya yang muncul, futur dan hilang semangat. Namun jauh di lubuk hati, saya selalu berusaha agar bisa keluar dari keterpurukan ini dan berharap pulang kembali nanti ke daerah dalam keadaan yang lebih baik.

Dalam satu tahun ini saya belajar, tentang bagaimana bersosialisasi dengan teman-teman yang majemuk. Tentang bagaimana cara hidup orang-orang disini, termasuk juga cara bertahan hidup mereka. Saya melihat bagaimana orang-orang kaya di mall dan pusat perbelanjaan menghabiskan uang mereka. Saya melihat pula bagaimana tukang sol sepatu, penjual remote tv, tukang ganti baterai jam, tukang telur asin, tukang roti, tukang otak-otak, penjual kasur, dan lain-lain memanggul dan berteriak-teriak di bawah terik matahari menjajakan barang dagangannya menyusuri jalan-jalan sempit di antara pemukiman yang rapat  dan padat disini.

insya Allah saya meyakini, bahwa apa yang saya jalani ini memang bagian dari taqdir-Nya yang harus saya tempuh, meski mungkin agak terpuruk, serta banyak hal dan mimpi lain yang harus saya urungkan atau harus direncanakan ulang. Harapan saya, semoga diberi kelancaran dan kesehatan, termasuk bagi keluarga saya disana dan semoga saya bisa melewati semua ini,  sehingga  bisa pulang kembali ke daerah sesegeranya….. Aamiiin…

2 thoughts on “Tahun Pertama di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s