Aku dan Jakarta

Bismillah…

Tak terasa sudah sekitar setengah tahun saya tinggal di ibukota negara kita ini. Tak ada salahnya mungkin jika sedikit berbicara bagaimana penilaian saya yang berasal dari kampung ini tentang Jakarta.

Bila orang berkata bahwa kehidupan di ibukota itu keras, memang benar adanya. Dilihat dari kehidupan sosialnya, masyarakat disini sangat berbeda dengan yang kita temui di kampung. Perumahan yang padat dan masyarakat yang sibuk merupakan hal yang dapat kita temui sehari-hari. Memang mereka agak cuek tapi menurut saya pada dasarnya, asalkan kita tidak macam-macam dan bersikap baik maka merekapun akan baik pula kepada kita, minimal mereka menerima kehadiran kita dalam komunitas mereka.

Meski Jakarta merupakan kota tempat berlatar belakang suku, gaya bahasa betawi tetap banyak digunakan. Bahasa Loe atau Gue merupakan ciri khasnya, dengan cara bicara yang to the point mungkin bagi kita yang belum terbiasa akan merasa sedikit “terganggu”. Maklum, bukankah ada peribahasa lain lubuk lain belalang.

Jangan bertanya pula tentang macetnya, Fiuh…. kita beruntung kalau dalam suatu perjalanan tidak menemui macet, walaupun sudah menggunakan busway. Oleh karena itulah mungkin Pemerintah DKI Jakarta berkeinginan membuat sistem transportasi massal modern untuk memecahkan masalah ini. Dengar-dengar mau bikin monorel, tapi entahlah apakah itu akan terwujud atau tidak. Melihat betapa macetnya Jakarta, sebenarnya kadang saya merasa kasihan dengan orang-orang disini. Mereka harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari macet dan pulang kembali ke rumahnya bisa sampai malam hari selepas maghrib karena padatnya kendaraan. Sebuah perjuangan mencari nafkah bagi keluarga yang justru harus mengorbankan waktu berkumpul bersama keluarga itu sendiri.

Dilihat dari sisi ekonomi, Jakarta merupakan sebuah kota yang menjanjikan. Apa yang di kampung mungkin tak terpikirkan untuk dijual pun disini ada yang menjual. Masing-masing pedagang berlomba mencari celah, mulai dari emperan trotoar, jembatan penyeberangan, pasar tradisional, sampai ke Mall dan Supermarket. Hanya kita yang harus bijak untuk mengelola keuangan disini karena besarnya godaan untuk membelanjakan uang agar tidak terpuruk dikemudian hari.

Untuk sekarang mungkin cukup ini saja dulu, semoga suatu saat nanti bisa berbagi lagi bagaimana keadaan disini dalam tulisan-tulisan yang lebih berbobot..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s