Sedikit pengalaman tentang shalat…

Bismillah…

Teringat sekitar bulan Juni lalu, saat pertama kali ke JCC untuk menghadiri melihat semacam pameran tentang teknologi dan gadget. Lumayan lah buat nambah-nambah ilmu tentang teknologi, sekalian bisa nyoba-nyoba gadget terbaru gratis🙂 (harap maklum, ndeso mode on).

Karena dulu berangkatnya udah sore jd otomatis harus sholat maghrib disana. Nah, disinilah hal ada hal menarik yang saya temui. Ternyata di kota besar seperti Jakarta, alhamdulillah masih banyak masyarakat muslim yang  ingat dengan sholat. Bayangkan, untuk berwudhu saja kita mesti antri karena kran airnya cuma sedikit, sementara jumlah jama’ah lumayan besar. Apalagi pas mau sholat, antrinya udah kaya mau masuk KRL (kata orang disana sih, karena saya sendiri juga belum pernah naik KRL🙂. Alhamdulillah juga, ternyata kita bisa antre dan tertib… (maksud loe????)

Kalau dilihat sepintas, memang menggembirakan melihat keadaan seperti itu, kita bisa jadi lebih bersemangat karena melihat antusias yang besar dari sesama muslim untuk menunaikan sholat, apalagi di kota sebesar Jakarta. Namun, dengan lebih menyelami hal yang terjadi, kita sebenarnya miris. Hari itu sebenarnya jumlah pengunjung JCC mungkin puluhan ribu orang, artinya jumlah muslimnya juga puluhan ribu orang. Tapi apa yang kita lihat, masyarakat yang mau menunaikan sholat itu sebenarnya, paling banyak hanya sekitar seribuan orang.

Mereka antre lebih karena penyelenggara hanya menyediakan ruang sholat yang kecil, paling cuma muat beberapa puluh orang. Penyelenggara mungkin sadar bahwa   jumlah segitu sudah cukup jika di ukur dengan tingkat ketaaatan muslimnya. Hal yang sangat miris karena istilah islam KTP (atau KTP islam???) memang terbukti benar. Kita cuma mengaku sebagai muslim namun dalam pelaksanaan ajaran-ajarannya masih minim. Jangankan untuk sholat 5 waktu berjama’ah (khususnya para laki-laki), bahkan sholat Jum’at yang satu kali seminggu saja banyak yang melalaikan.

Sesibuk apapun kita, tidak seharusnya pula kita sampai melalaikan pelaksanaan sholat lima waktu. Bukankah kita punya waktu 24 jam dalam sehari semalam, mengapa tidak bisa menyisihkan hanya sekitar 10 menit saja untuk tiap waktu sholat. Teringat perkataan guru Agama Islam saya sewaktu SD, kata beliau pelaksanaan sholat bagi yang belum terbiasa memang agak berat, namun jika kita telah terbiasa justru kita yang perlu untuk sholat. Untuk perkara dunia kita bisa menyempatkan namun mengapa untuk akhirat kita tidak bisa. Sadarlah wahai kawan, bukankah diantara perbedaan dalam ibadah kita dibandingkan dengan non muslim adalah perkara sholat.

Untuk dosa meninggalkan sholat mungkin tak perlu saya tuliskan secara panjang lebar disini karena jika anda bisa membuka blog ini, tentu bukan perkara yang sulit bagi anda untuk Googling internet. Namun, sedikit yang saya kutip tentang dosa meninggalkan sholat antara lain :

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566).

Mayoritas sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wasallam menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq. Beliau mengatakan,

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ

“Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)

Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah– mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)

Saya menurunkan tulisan ini bukanlah berarti saya yang terbaik karena sayapun masih perlu banyak belajar, namun tulisan ini lebih karena saya masih menganggap rekan-rekan sesama muslim saudara. Ingatlah segala perbuatan kita akan dihisab kelak di akhirat, baik anda sadari atau tidak, mau atau tidak, hal ini pasti akan terjadi, sebagaimana kematian yang juga pasti akan menghampiri kita.

Akhirnya semoga tulisan pendek ini dapat memberi manfaat dan motivasi, khususnya bagi saya sendiri.

2 thoughts on “Sedikit pengalaman tentang shalat…

  1. chuzaimah berkata:

    Kewajiban kita untuk saling mengingatkan., semoga di Hijri kali ini kita senantiasa terus istiqomah memperbaiki diri, dalam tutur dan perilaku. Semoga Iman dan Islam selalu meyertai hingga akhir hayat. Karena sholat adalah tiang, maka menjaga sholat adalah kebutuhan untuk tetap berdiri dan berjalan di sirah agama kita yang mulia. Ijin share🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s